Masa Laluku
Setelah beberapa tahun tidak pernah melihatnya, ternyata Tuhan masih memperkenankan kami-aku dan dia- bertemu kembali. Pertemuan yang tak terduga dan di tempat yang tak terduga pula-di toko buku langgananku. Tapi bagaimana bisa ia berada di kota ini? Ini sangat mengejutkan terlebih untukku, sedang dia bersikap tenang-seakan sudah siap dengan pertemuan ini- kemudian ia mencoba menghampiriku. Tak ada lagi waktu untuk menghindarinya. Walau aku sangat ingin melakukannya. Namun aku hanya bisa diam mematung, berdiri di tempat dimana aku tadinya sedang asyik membaca majalah.
Kupandangi dia, ada yang tampak berbeda darinya, badannya terlihat lebih kurus -dari yang ku kenal dulu. Satu hal yang tak berubah darinya yaitu cara berpakaiannya yang masih terlihat ‘simple’.
“Hai!” sapanya ketika sudah berada tepat di depanku tentu dengan memberikan senyuman terbaik yang dia punya, dan……..
“Sialan!”, batinku.
Senyum itu kembali mengingatkanku dengan kejadian dua tahun lalu. Yang semula sudah -atau tepatnya hampir bisa kulupakan namun karena hari ini-bertemu kembali dengannya-terpaksa memoriku mengingatnya kembali. Luka hati yang hampir sembuh kini terasa ngilu lagi.
****
Ponselku bergetar ketika aku baru saja keluar dari ruang kuliah. Rupanya ada pesan masuk.
“ Hemh, rupanya dia!” gumamku setelah membuka pesan tersebut.
Setelah lebih dari 1 bulan tak memberi kabar apapun sekarang dia ingin bertemu denganku. Katanya dia ingin membicarakan sesuatu menyangkut kita-aku dan dia. Apa yang ingin dia bicarakan? Kenapa baru sekarang ingin membicarakan sesuatu? Kenapa setelah sebulan lebih baru ingin bicara? Penjelasan apa yang ingin ia berikan atas kebisuannya selama ini? Pertanyaan-pertanyaan itu satu persatu muncul di kepalaku.
Aku tak segera membalas pesannya. Untuk menenangkan diri kuputuskan untuk segera pulang ke kos. Sesampainya di kos, tak juga segera aku membalas pesannya tadi, hanya bolak-balik aku baca. Harus kubalas atau tidakkah pesannya ini?
Aku mulai jengah dengan hubungan yang belakangan ini tidak jelas, namun di lubuk hatiku yang paling dalam masih tetap ada ruang untuknya walau semakin menyempit.
Satu jam sudah pesannya kuabaikan. Dia kembali mengirimiku pesan untuk menentukan waktu dan tempat bertemu. “Nanti malam jam 19.30 ku tunggu di cafe tempat biasa kita bertemu”. Itu bunyi pesan yang ia kirimkan.
Aku sebenarnya enggan setuju dengan isi pesan tersebut. Namun karena aku juga ingin kejelasan atas ini semua. Akhirnya kuputuskan untuk memenuhi permintaannya nanti malam.
Jam menunjukkan pukul 19.30 tepat aku telah sampai di café Strawberry. Sebuah café kecil namun menawarkan suasana yang tenang dengan lampu warna-warni menghiasi sekelilingnya. Di setiap sudut ruangan juga terdapat tanaman hijau di tambah gemericik air dari air mancur yang ada di depan café. Suasana yang pas untuk berbincang-bincang santai sambil minum milkshake-minuman kesukaanku- dengan ditemani pisang bakar cokelat keju.
Ternyata dia belum sampai, aku memilih tempat terdepan paling pojok-tempat favorite kami. Sepuluh menit kemudian dia baru muncul lalu segera menghampiriku.
‘’Maaf terlambat!’’ kata-kata pertama yang ku dengar setelah sebulan ini ia ‘menghilang’. Dia kemudian duduk di hadapan ku.
“Oke, aku gak pengen basa-basi Fa!”, ia memulai pembicaraan.
Hal yang tidak biasa, ia ingin straight to the point. Hal yang juga tidak biasa dia hanya memanggilku dengan nama belakangku saja. Biasanya ia selalu menyisipkan kata “dik” di depan namaku, lengkapnya dik Shifa. Tanpa menunggu jawabanku ia meneruskan hal yang ingin ia katakan.
“Fa, sepertinya hubungan kita sudah tidak bisa di teruskan lagi, maaf apabila aku selama ini banyak salah sama kamu, aku harap kamu bisa memaafkan aku dan menerima keputusanku ini” jelasnya panjang lebar.
Aku yang tak menyangka dia akan berucap seperti itu, aku hanya bisa terdiam dan merunduk seraya menutup kedua belah mataku. Seakan malam bertambah semakin gelap ketika ia menyelesaikan kata-kata yang begitu menyayat hatiku itu. Namun suasana café mulai ramai, aku pun mulai bisa mengendalikan perasaanku.
“Fa, ini yang terbaik untuk semua, aku harap kamu ikhlas”, lanjutnya lagi.
“Iya gak apa-apa mas Angga, kalau ini yang terbaik untuk semua aku ikhlas mas”, balasku dengan bibir bergetar.
Aku tak tahu dapat kekuatan dari mana untuk mengatakan itu semua. Yang ku tahu aku puas telah berhasil menang mengendalikan perasaanku sendiri, tanpa menangis atau pun mengiba di depannya. Ia inginkan putus dan aku dengan mudah mengabulkannya tanpa bertanya tentang apa alasannya. Itu tak penting lagi, semua itu menunjukkan bahwa ia sudah tidak menginginkan aku untuk ada dalam hidupnya.
“Ya udah Fa, aku pulang dulu! Aku harap setelah ini kita bisa berteman dan tetap berhubungan baik. Met malam!”, terselip senyum di sana-senyum yang di buat-buat-sebelum dia beranjak pergi.
Aku sempat membalas senyumnya juga-senyum terkecut yang pernah aku tampilkan.
Semua telah jelas sekarang bahwa semuanya harus berakhir setelah berusaha kupertahankan selama kurang lebih satu tahun. Aku ikhlas merelakannya –walau terasa perih. Banyak teman dan sahabat menguatkanku. Terutama mama, beliau pen’support’ terdepan untukku. Beliau bisa menjadi sosok ibu juga sahabat-yang setia mendengar keluh kesahku. Walaupun sebenarnya beliau telah berharap banyak akan hubunganku dengannya. Namun harapan itu kini sirna begitu saja ketika malam itu ia ucapkan kata putus.
“Ndak apa-apa nduk, mungkin dia bukan jodohmu!”, hibur beliau sambil membelai rambutku ketika ku sandarkan kepalaku di bahunya.
Tak sadar aku pun menitikkan air mata-yang sebenarnya sudah ingin aku muntahkan saat malam itu. Namun karena aku begitu kuat menahannya, air mata itu tak sempat menetes di hadapannya. Aku tak ingin ia anggap lemah. Namun saat ini, di hadapan mama aku bisa meluapkan semuanya.
“Sudah nduk kamu yang sabar ya, ini sebuah proses menuju pendewasaan, mama yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik”, nasehat beliau sambil mengusap pipiku-yang telah basah oleh air mata- dengan lembut.
“Ya ma, amin!”, jawabku kemudian memeluknya erat.
Air mata itu adalah air mata pertama dan berharap yang terakhir untuknya. Kehidupanku paska kejadian itu makin tegar. Aku lebih menghargai apa yang telah aku miliki sekarang, keluarga yang begitu menyayangiku dan mendukungku juga sahabat-sahabat terbaikku yang selalu ada ketika aku sedih maupun senang.
Mulai saat ini aku putuskan untuk berkonsentrasi dengan kuliahku yang tinggal satu tahun lagi akan selesai aku tempuh. Dan akan segera menyandang gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Aku tak sabar menanti hari itu, hari di mana aku akan memakai kebaya dengan toga di kepalaku dan dengan bangga aku akan menerima ijazah yang di serahkan langsung oleh Pak rektor. Orangtuaku tentu akan sangat bangga dengan putrinya jika semua itu bisa terwujud.
Semoga doa mereka selalu menyertai di setiap langkahku agar aku dapat terus berdiri tegak untuk mengapai cita-citaku. Amin!
****
“Fa gimana kabarmu?”, pertanyaannya segera membuyarkan lamunanku.
“Oh…… baik”, jawabku gelagepan.
“Kamu gimana?”, lanjutku.
“Aku juga baik Fa, dah lama ya kita gak ketemu, aku tadi sempet pangling lho sama kamu”, jawabnya antusias.
Hemh! Obrolannya sudah sangat renyah-seperti tak pernah terjadi apa-apa di masa lalu- bahkan setelah dua tahun tak pernah bertemu. Mungkin sifat itulah yang di sukai oleh Orangtuaku, sifatnya yang pandai membawa diri dimanapun dia berada. Aku juga sempat terpikat oleh sikapnya itu, tapi itu dulu.
“oh …… ya?”
“iya, tadinya aku ragu cuman aku beraniin diri untuk menghampiri kamu, ternyata setelah dekat, ini memang bener-bener kamu Fa”.
Aku hanya tersenyum kecut mendengar pengakuannya. Kemudian kucoba mengalihkan perhatianku pada majalah yang sempat aku baca tadi. Dia mungkin tahu dengan sikapku yang tidak merespon ucapannya, itu menandakan aku tak begitu suka dengan topik yang sedang ia bicarakan.
“Fa, Tuhan itu memang benar-benar ada ya, tindakan-Nya nyata, Dia kuasa atas segalanya”, ucap Angga
Mendengar ucapannya itu, mau tak mau aku kembali memperhatikannya lagi.
“Fa, kamu percayakan pada-Nya? Aku percaya Fa”,
“Maksudmu?”, tanyaku yang masih bingung arah pembicaraannya.
“Iya, buktinya Dia mempertemukan kita di sini, aku pikir aku takkan pernah bisa bertemu denganmu lagi”,
“Aku gak ngerti kamu ngomong apa?”,
“Aku memang aneh ya?”,
“Sepertinya tak perlu aku jawab!”,
“Kamu belum berubah Fa, masih seperti Shifa yang kukenal dulu”,
“Ya inilah aku!”,
“Kalaupun ada yang berubah itu hanya fisikmu saja, kini dah tambah tinggi, dan…..”,
“dan apa?”,
“Tambah cantik”, sanjungnya tanpa malu-malu.
Sanjungan itu tak membuatku besar kepala apalagi hingga melambungkanku, malahan terasa hampa tanpa rasa.
“Iya, aku dari dulu hanya berusaha menjadi diriku sendiri, kalaupun ada orang yang gak suka dengan apa yang ada pada diriku, aku pikir itu hak mereka untuk tetap bertahan atau memilih pergi dariku”,
Aku berhenti sejenak untuk menghela nafas, emosiku yang selama ini berusaha aku pendam kini meledak tak tertahankan.
“Memang bukan sepenuhnya salah mereka, mungkin aku yang kurang mawas diri, namun aku mencoba mengerti dan tak menuntut apapun, bahkan penjelasan sekalipun aku tak mempertanyakannya!”,
“Aku ngerti Fa, kamu…………..”,
“Mengerti? Apa yang coba kamu mengerti? Kamu tak benar-benar mengerti mas!”, potongku.
“Itu semua memang salahku, aku yang terlalu buru-buru mengambil keputusan, jujur hingga saat ini juga detik ini rasa penyesalan itu belum berakhir Fa!”,
“Itu semua sudah tak ada gunanya lagi”,
“Iya aku tahu, aku hanya…………..”,
“Hanya apa? Hanya ingin memberikan penjelasan atas keputusanmu dua tahun lalu? Aku sudah tidak butuh itu lagi!”,
Setelah puas mengutarakan semua isi hatiku segera kuputuskan untuk berlari sejauh mungkin darinya. Meninggalkannya yang tengah merasa bersalah dan penuh penyesalan. Ku dengar sayup-sayup dia memanggilku, namun tak kugubris aku terus saja berlari.
Semenjak pertemuan itu, aku tak bisa lepas memikirkan saat-saat yang tak mengenakkan itu. Hingga suatu hari ia mengirimkan aku e-mail. Aku heran bagaimana ia bisa mengetahui alamat e-mailku yang baru. Padahal sejak dua tahun yang lalu aku telah menggantinya termasuk nomer ponselku pun ku ganti. Kubuka perlahan……
“Maaf jika kejadian satu pekan lalu membuatmu harus mengenang kejadian masa lalu yang seharusnya telah lama terkubur dan terlupakan. Ada keraguan sebelum akhirnya aku putuskan untuk mengirimkanmu e-mail ini. Aku melakukan ini karena aku tak ingin beban yang selama dua tahun ini aku tanggung terus saja membebaniku. Aku harus katakan ini semua padamu, walaupun ini sedikit terlambat namun bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali.
Dua tahun lalu tepatnya dua hari sebelum hari ulang tahunmu, bukannya aku memberikan kado yang terindah untukmu, aku malah menghadiahimu dengan kata perpisahan. Aku memang salah Fa saat itu, namun semua itu aku punya penjelasannya.
Saat itu lebih dari sebulan aku tidak menghubungimu, menelepon atau sekedar mengirimimu pesan pun tidak kulakukan. Saat itu aku sedang dihadapkan kepada pilihan yang sama-sama beratnya, yaitu lebih memilih kekasih atau keluarga. Pilihan yang sangat sulit Fa buatku karena keduanya adalah orang-orang yang sangat aku cintai. Sebulan aku pikirkan itu baik-baik, dan pada akhirnya aku putuskan untuk lebih memilih keluarga dan memutuskan untuk meninggalkanmu. Aku tak bisa menahan kesedihanku. Pilihan itu ada karena saat itu ayahku sedang sakit Fa, keluarga besar mendesakku untuk segera pulang ke Surabaya. Bukan hanya pulang biasa namun harus meninggalkan Jogja juga kuliahku. Karena keluarga telah yakin ayah tidak bisa bertahan lama karena sakit yang beliau derita semakin hari semakin bertambah parah dan mengkhawatirkan. Tak ingin mendahului keputusan Sang Khalik namun keluarga harus mempersiapkannya. Seperti yang telah kamu ketahui Fa, aku anak pertama dan adik-adikku semua perempuan. Kelak jika ayahku tiada akulah yang dipercaya untuk meneruskan usaha yang dimiliki keluarga. Aku harus disiapkan untuk memimpin perusahaan tersebut yang semula dipimpin oleh ayah. Karena ayah belakangan sakit parah perusahaan mengalami kemunduran. Aku ditugaskan untuk memajukannya kembali. Dua bulan kemudian ayah pun dipanggil Yang Maha Kuasa meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sedih rasanya kehilangan sosok yang semasa hidupnya begitu menyayangi keluarga. Namun duka itu tak berlarut-larut, kami segera bangkit, memenuhi wasiat ayah untuk membangun kembali usaha yang sudah ayah bangun dengan kerja keras sejak masa mudanya demi hidup keluarga yang lebih baik. Dan akhirnya perusahaan ayah berangsur-angsur bangkit dari keterpurukan, memang tidak mudah namun dengan kerja keras pula kami dapat memajukannya kembali sesuai keinginan ayah yang terakhir. Semoga beliau tenang dan di tempatkan di tempat yang paling layak di sisiNya, amin!
Fa, maaf tuk semua hal yang telah membuatmu sakit di masa lalu. Namun sungguh aku menyesal karena seharusnya aku menceritakan semuanya terlebih dahulu padamu sebelum aku memutuskan segala sesuatunya. Aku tak tahu apa yang seharusnya aku lakukan untuk menghadapi hal yang serumit ini. Yang ku bisa hanya membuat keputusan yang bodoh, maafkan atas kebodohan aku ini! Mamamu Fa yang mengatakan bahwa aku seharusnya bersikap seperti itu terhadapmu, setelah beliau mendengarkan semua alasanku meninggalkanmu. Beliau juga yang mengatakan keberadaanmu saat ini hingga ku bisa menemukanmu di kota ini. Aku ingat kamu dulu pernah bercerita padaku tentang keinginanmu untuk meneruskan pengabdian papamu. Dan kamu memang benar benar merealisasikan keinginanmu untuk mengabdi di sekolah yang di kepalai oleh papamu. Saat aku tanyakan alasanmu, mengapa lebih memilih Kalimantan sebagai tempatmu menularkan ilmu yang selama empat tahun kamu gali di bangku kuliah. Dan engkau menjawab,” karena aku ingin memajukan daerah kelahiranku mas”.
Fa, aku hingga saat ini masih ingat akan semua kenangan kita saat bersama, seumur hidup tak kan pernah terlupa. Aku tak menuntut banyak Fa setelah kau membaca pesanku ini, aku hanya ingin suatu hari nanti kita bisa saling bicara tanpa ada rasa dendam akan kejadian masa lalu. Aku tak sabar menanti saat-saat itu. Semoga segera terwujud. Amin!”
Setelah selesai membaca pesan yang tidak singkat itu tak sadar aku pun menitikkan airmata yang kedua untuknya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar